Sudahkah Kita Beretika dalam Berwisata?

Travel

Source Image: http://graziadiovoice.pepperdine.edu/

Masih hangat dalam benak kita semua ketika para netizen mem-bully wisatawan-wisatawan dadakan yang merusak kebun bunga Amaryllis di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta. Hanya untuk mendapatkan foto dan ”like”, mereka tanpa ampun menginjak-injak bunga oranye yang tak bersalah tersebut. Berdalih tidak adanya jalan setapak yang disediakan, mereka memaklumi jika bunga-bunga yang hanya mekar setahun sekali itu porak-poranda. Meski kawasan tersebut bukanlah kawasan wisata yang dipersiapkan untuk menampung puluhan wisatawan, namun etika berwisata mereka tetap menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Mereka geram atas tindakan wisatawan-wisatawan alay yang menghalalkan beragam cara hanya sekadar untuk berfoto ria. Konsep wisata sebagai sarana menikmati keindahan alam tanpa merusaknya tidak lagi relevan jika melihat kejadian tersebut. Bukanlah tidak mungkin jika hal seperti itu akan terulang kembali nantinya.

Perkembangan teknologi, terutama kamera ponsel, dan media sosial memang berdampak besar dalam kehidupan manusia, tak terkecuali dalam bidang pariwisata. Kemunculan teknologi baru tersebut memungkinkan seseorang untuk berfoto dengan latar kawasan wisata dan mengunggahnya ke jejaring sosial mereka, sehingga banyak orang yang tahu bahwa mereka telah ke sana. Semakin unik, eksotis, dan ekslusif foto yang mereka bagi, semakin banyak jumlah ”like” yang mereka peroleh. Semakin banyak jumlah ”like” yang mereka dapat, akan terasa semakin eksis, terkenal, dan keren di mata kawan-kawannya. Oleh karena itulah banyak yang berlomba-lomba menghasilkan foto berlatar paling bagus, paling unik, dan paling eksklusif untuk ditampilkan dalam sosial media mereka, bagaimanapun caranya.

Banyak permintaan, banyak pula penawaran. Bisnis pariwisata di Indonesia bak jamur di musim hujan. Situs-situs booking tiket online bermunculan dengan iklan yang senantiasa menghiasi layar kaca di jam premium. Acara-acara wisata dengan host cantik dan ganteng, make up tebal, dan pakaian trendy pun semakin merebak di berbagai stasiun televisi. Masyarakat, terutama anak muda, seakan-akan diajak untuk berwisata. Jika tidak berwisata berarti kurang gaul dan tak layak menyandang gelar anak muda masa kini.

Kegiatan wisata yang dulu hanya sarana refreshing bersama keluarga, kini telah bergeser menjadi sesuatu yang dianggap keren, kekinian, gaul, dan tentunya bisnis-able. Hal ini semakin ditegaskan dengan terkenalnya hashtag #kurangpiknik maupun kaos bernuansa adventure yang menjadi trend anak muda Indonesia zaman sekarang. Mereka yang telah mem-posting foto di kawasan wisata paling hype atau yang belum terkenal akan dianggap paling ’wah’. Alhasil lonjakan jumlah wisatawan semakin meningkat dan akan terus meningkat ke depannya.

Meningkatnya wisatawan di suatu kawasan wisata memang berdampak positif bagi kawasan wisata itu sendiri. Pendapatan kawasan wisata meningkat, warga sekitar yang mengais rezeki di sana juga bertambah penghasilannya. Wisatawan happy, warga sekitar happy, pengelola kawasan wisata pun happy. Akan tetapi, di sisi lain ada keniscyaan jika ledakan wisatawan yang tak terkendali dapat berdampak negatif bagi kawasan wisata. Terlebih jika disertai dengan kurangnya etika wisata dan pengelolaan kawasan wisata yang tidak optimal.

Dalam bukunya yang membahas seluk-beluk wisata, Porn(o) Tour, Nurdiyansah Dalidjo memberikan gambaran gamblang bagaimana ledakan wisatawan yang tak terkendali malah berdampak negatif bagi kawasan wisata itu sendiri. Ia mengambil contoh Candi Borobudur yang senantiasa ramai ketika musim liburan maupun perayaan Waisak. Desak-desakan pengunjung ataupun tingkah laku alay tak beraturan untuk mendapatkan sudut foto terbaik kadang malah berisiko merusak atau mengotori candi dan mengganggu kekhidmatan jalannya ibadah. Tidak adanya ketegasan dalam memberikan sanksi ataupun aturan dari pengelola juga membuat mereka bebas dalam melakukan itu semua.

Untuk wisata alam, pegunungan bisa menjadi contoh yang bagus bagaimana lonjakan wisatawan yang tak terkendali malah merusak kelestarian alam. Terlebih jika diperparah dengan kurangnya kesadaran wisatawan akan etika berwisata alam yang baik dan bertanggung jawab. Sampah, dipetiknya bunga Edelweiss secara masal, dan vandalisme adalah beberapa hal yang sering ditemui di sepanjang jalur pendakian maupun puncak. Sekali lagi, wisata yang seharusnya untuk menikmati keindahan alam tidak lagi sesuai dengan kenyataan tersebut.

Berwisata tentunya boleh-boleh saja, malah dianjurkan di sela-sela rutinitas kerja atau kuliah. Dengan berwisata pikiran akan kembali segar dan terkondisikan untuk siap kembali menjalani rutinitas. Akan tetapi, perlu adanya kedisiplinan dan etika dalam berwisata. Komitmen dari dalam diri untuk menjadi wisatawan yang bertanggung jawab itulah yang harus ditingkatkan agar kawasan wisata senantiasa terjaga.

Nurdiyansah juga menambahkan bahwa ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjadi wisatawan beretika. Berbagai macam manfaat pun akan diperoleh ketika mengedepankan etika dalam berwisata. Dengan menjadi wisatawan beretika, kita tidak hanya menjadikan kawasan wisata lestari, namun berdampak pula dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan mengurangi rantai kriminalitas. Lalu sudah sejauh mana posisi kita selama ini? Apakah wisata yang kita lakukan telah memberikan manfaat? Atau malah sebaliknya?

1 Comment

  1. Hhodpn ylmdob generic cialis cheap cialis online

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon