Proses Kreatif Ken Arok Sumelang Gandring

Zhaenal FananiBagi saya, proses kreatif seperti ‘pulang’ ke rumah. Tempat segala hal bermuara; tempat seluruh peristiwa bermula, dan tempat segenap keliaran berasal.

Proses kreatif setiap naskah selalu berbeda. Khusus untuk novel Ken Arok; Sumelang Gandring – kelanjutan dari novel sebelumnya Ken Arok; Cinta dan Tahta, yang telah diterbitkan Tiga Serangkai – lahir dari geliat kofrontasi yang telah lama mengendap dalam kepala.

Timbunan konfrontasi itu berhulu pada pertanyaan : mengapa Ken Arok membunuh Mpu Gandring dan Kebo Idjo? Mengapa Ken Arok menikahi Ken Dedes dan Ken Umang?

Hemat saya pembunuhan atas Mpu Gandring dan Kebo Idjo sama sekali di luar apa yang selama ini dibicarakan orang – tentang sebuah keris mahakarya Mpu Gandring. Di belakang tragedi berdarah itu terdapat alasan yang lebih signifikan : politik; tahta Tumapel.

Bagi Ken Arok, Mpu Gandring adalah figur yang berbahaya. Mpu Gandring memiliki keahlian membuat senjata. Mpu Gandring mempunyai manggala ( padhepokan, perguruan ) yang dihuni para cantrik / siswa terlatih. Senjata dan cantrik merupakan modal utama bagi seseorang untuk merebut kekuasaan. Bagi Ken Arok, Kebo Idjo juga sosok yang berbahaya. Kebo Idjo orang dekat Tunggul Ametung. Sewaktu-waktu Kebo Idjo bisa melakukan pengkhianatan.

Sementara pernikahan Ken Arok dengan Ken Dedes dan Ken Umang bukan sekadar karena Ken Arok tergiur kecantikan Ken Dedes yang memancarkan nareswari. Tapi lebih karena Ken Arok perlu status sosial. Dan pernikahannya dengan Ken Umang karena Ken Arok perlu seorang perempuan pejuang.

Ken Arok Sumelang Gandring

Lebih daripada itu, terlepas dari semua kekurangannya, Ken Arok adalah potret perjuangan seorang rakyat biasa ( kaum sudra ) dalam menggapai sebuah karir politik. Ken Arok adalah kreator, mobilisator sekaligus pendobrak kelaziman pada zamannya. Dalam diri Ken Arok terjalin inovasi sempurna – sebuah perjalanan panjang anak manusia melewati dunia kejahatan sekaligus dunia religius.

Seorang Ken Arok adalah inspirasi yang layak direnungkan. Ia cermin besar; area untuk mengoreksi dan belajar tentang kehidupan. Itu alasan sebenarnya mengapa saya berusaha menghadirkan kisahnya kembali dalam sebuah novel.

Seperti novel genre fiksi sejarah lain, kemudahan genre ini adalah ketersediaan data baik di internet maupun buku-buku yang telah terbit. Tapi justru di balik itu, kita ditantang untuk menghadirkan tafsir baru yang berbeda dengan buku-buku yang telah beredar. Tanpa hadirnya ‘penerjemahan baru’, kita seperti mengulang jejak yang ada. Selebihnya, genre fiksi sejarah perlu sedikit nutrisi; riset – data akurat, pemahaman latar budaya dan pemutakhiran informasi – dibanding genre yang lain.

Genre fiksi sejarah agak menghibur karena setiap kali membuat naskah baru kita mendapat ilmu pengetahuan baru (Zhaenal Fanani)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon