Menciptakan Kegiatan Orientasi (MOS/OSPEK) yang Ideal dan Terpelajar

tigaserangkai.com – Menciptakan Kegiatan Orientasi (MOS/OSPEK) yang Ideal dan Terpelajar – Kegiatan orientasi kini menjadi sebuah ritual yang melembaga pada institusi pendidikan di Indonesia. Jika di tingkat SMA dikenal dengan istilah MOS (Masa Orientasi Siswa), maka di tingkat perguruan tinggi dikenal dengan istilah OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus). Secara mendasar tujuan dari kegiatan orientasi ini adalah sangat baik, yakni mempersiapkan siswa/mahasiswa baru untuk mengetahui lingkungan institusi pendidikan mereka secara lebih mendalam. Kegiatan orientasi ini bisa dikatakan sebagai interaksi awal antara siswa/mahasiswa baru dengan lingkungan sekolah/kampus.

12penerimaan_siswa_baru

KEGIATAN ORIENTASI : POSITIF ATAU NEGATIF?

Ada banyak pendapat yang bermunculan ketika mendiskusikan kembali peran dan tujuan kegiatan orientasi yang tiap tahunnya dilakukan di hampir setiap institusi pendidikan di Indonesia. Ada yang menilainya dengan tanggapan positif, namun tidak jarang juga yang menilai negatif.

Hendra Sunandar, Mahasiswa Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, mengungkapkan, “Faktanya, lebih banyak kalangan yang menilai negatif serta merasa kecewa dengan pelaksaan kegiatan orientasi yang seringkali tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan.”

Tentu semua berharap apa yang didapat ketika kegiatan orientasi adalah sesuatu yang berharga, yakni pelaksanaannya yang bervisi akademis, bukan bervisi balas dendam. Namun yang muncul di media massa adalah kerap kali pelaksanaan kegiatan orientasi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni diwarnai banyak tindakan kurang terpuji yang dilakukan oleh senior terhadap siswa/mahasiswa baru. Bahkan, terdapat kasus kegiatan orientasi di luar batas yang mengakibatkan tewasnya junior akibat tindakan amoral yang dilakukan oleh seniornya pada saat mengikuti kegiatan orientasi. Akhirnya, kegiatan orientasi ini berubah menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian besar siswa/mahasiswa baru.

Dalam pelaksanaan kegiatan orientasi sering kali muncul jargon yang sangat popular yakni “Senior selalu benar dan Junior selalu salah”. Dan sampai saat ini pun jargon tersebut masih laris dipakai oleh para senior dalam pelaksaan kegiatan orientasi. Keberadaan jargon tersebut memunculkan sebuah kerangka berpikir bahwa kegiatan orientasi adalah ajang semi militeristik, yang mengharuskan junior tunduk kepada senior. Apabila tidak tunduk, maka sinyal bahaya akan menjemputnya. Kondisi ini menunjukkan, seakan-akan kegiatan orientasi menjadi ajang balas dendam rutin yang dilakukan oleh senior kepada junior dari tahun ke tahun. Bahkan, banyak kalangan menilai hal ini sebagai budaya.

“Hal tersebut yang membuat kegiatan orientasi mendapat banyak kecaman sehingga membuat khawatir setiap orangtua siswa/mahasiswa baru,” ungkap Hendra.

Ilmuwan sosial Max Weber dalam teorinya menyatakan, ada hubungan dekat antara kekuasaan dan kekerasan. Kekerasan sering kali dipakai oleh manusia untuk melaksanakan dan memperbesar kekuasaan. Dan hal tersebut sering diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan orientasi, seperti sang senior memaksakan impulsi-impulsi primitif, dengan meminta permintaan yang aneh-aneh, dan sang junior mau tidak mau harus tunduk dan menaatinya. Pemaksaan ini membuat sang senior seolah-olah menjadi raja yang berkuasa. Padahal secara esensi tujuan dari pelaksanaan kegiatan orientasi bukan seperti itu.

ALA MILITER vs VISI AKADEMIS

Salah satu tujuan dari kegiatan orientasi adalah membangun disiplin. Dalam hal ini, disiplin yang dimaksud bukanlah disiplin mati ala militer, tetapi disiplin kreatif. Terdapat perbedaan fundamental di antara kedua disiplin tersebut. Disiplin kreatif bisa dikatakan sebagai penegakan disiplin yang mengutamakan asas kreativitas serta mengedepankan sisi kemanusiaan, sikap arif, bijaksana, ramah dan bervisi akademis. Berbeda dengan disiplin mati ala militer yang lebih mengedepankan otot dan menafikan seluruh argumentasi. Jadi harus dibedakan dahulu antara disiplin militer dengan disiplin kreatif, jangan disama-ratakan.

Tidak ada pilihan lain lagi, kegiatan orientasi yang bervisi balas dendam ala militer tersebut harus diganti dengan kegiatan orientasi yang bervisi akademis. Hal tersebut penting dalam upaya mengembalikan makna esensi dari kegiatan orientasi yang kini sudah dicemari oleh tindakan amoral yang ditujukan kepada siswa/mahasiswa baru. Sehingga orangtua tidak perlu lagi khawatir akan keberadaan anaknya dalam menjalani kegiatan orientasi.

Kegiatan orientasi harus dilakukan dengan konsep yang mendidik dan sesuai dengan tujuan awalnya, yakni seperti kegiatan pengenalan institusi pendidikan itu sendiri, pengenalan organisasi, pengajar, UKM atau ekstrakulikuler, prestasi, perencanaan studi serta sanksi akademis yang berlaku di institusi pendidikan tersebut, dan lain-lain. Dengan begitu seluruh kegiatan orientasi pasti lebih berjalan efektif dan lebih menunjukan aspek intelektual yang bermutu.

Melalui kegiatan orientasi peran senior atau kakak kelas memiliki fungsi yang sangat vital. Peran senior seharusnya memberikan arahan, membimbing, memberikan motivasi serta mendorong para siswa/mahasiswa baru untuk menjadi generasi yang mampu menjaga nama baik institusi serta memiliki andil besar sebagai agent of change dalam menjawab persoalan bangsa Indonesia di masa mendatang.

MEMPERSIAPKAN KEGIATAN ORIENTASI YANG IDEAL

Kegiatan orientasi yang mendidik, bukan menyeramkan, tentu jadi harapan semua pihak yang terkait. Lalu bagaimana menciptakan kegiatan orientasi yang menarik sekaligus mendidik itu?

1. Mendefinisikan Kembali Tujuan Kegiatan Orientasi

Menurut Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) Andi Aulia Rahman, ospek merupakan fase transisi, mengenal, dan beradaptasi dari seorang siswa menjadi mahasiswa. “Karena itu, kami harus membantu mahasiswa baru untuk mempersiapkan diri menghadapi kultur kampus yang berbeda dengan zaman sekolah menengah,” sebutnya.

Sedangkan pengamat pendidikan Arief Rachman menuturkan, MOS seharusnya menyampaikan visi dan misi sekolah serta kegiatan yang akan dilakukan selama satu tahun.

2. Bentuk Mindset Panitia Teladan

Arief menuturkan pelaksanaan kegiatan orientasi yang ideal adalah tanpa menjadi ajang balas dendam bagi senior ke juniornya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membentuk mental kepanitiaan dengan menanamkan kembali tujuan utama kegiatan orientasi. Panitia harus sadar dan tahu bahwa tujuan kegiatan orientasi membantu memperkenalkan sekolah/kampus kepada siswa/mahasiswa baru. Langkah selanjutnya memilah siapa saja boleh terlibat, seperti misalnya kepanitiaan ospek terdiri atas aktivis kampus, pegiat organisasi, rektorat, sampai petugas keamanan.

3. Materi Bermanfaat

Dalam pelaksanaannya, kegiatan orientasi harus detail memperkenalkan institusi pendidikannya, baik sekolah atau pun kampus.

Materi yang wajib diberikan panitia untuk mahasiswa baru wajib berfokus pada akademik dan nonakademik. Salah satunya pengenalan kampus, pengenalan organisasi, dosen, UKM, prestasi, perencanaan studi, sanksi akademis yang berlaku di kampus, serta mencakup softskill kepemimpinan, kerja sama, dan lain-lainnya tentang kehidupan kampus.

Sedangkan untuk siswa, perlu diinformasikan mengenai pembagian kelas, guru-guru yang akan mengajar, kakak kelas OSIS, serta letak berbagai fasilitas sekolah. Arief mengimbau agar jangan sampai kegiatan MOS melenceng atau ditambahkan kegiatan yang tak terpelajar. “Jangan juga siswa baru menggunakan tanda pengenal yang tak terpelajar,” ujarnya. Misalnya menggunakan topi panci atau kukusan nasi. Menurut Arif, lebih baik tanda pengenal sewajarnya yang mungkin ditambahkan nama pahlawan.

4. Batas Ketegasan

Ketegasan dari panitia itu penting. Siswa/mahasiswa baru harus digembleng agar mau mengikuti peraturan. Namun, bentuk ketegasan panitia tidak boleh melebihi batas wajar, seperti mendorong secara kasar atau melakukan sesuatu apapun yang bisa membahayakan keselamatan juniornya. Membuat aturan berarti membentuk disiplin siswa/mahasiswa baru pada kegiatan orientasi.

5. Perlu Pengawasan

Tidak hanya mahasiswa dan aktivis sebagai panitia, pihak rektorat kampus perlu menjadi pengawas berlangsungnya kegiatan orientasi. Kampus juga harus tahu karakter dan perkembangan orientasi mahasiswa baru. Menegur bila panitia melebihi batas dan ikut terlibat dalam penyuluhan kampus.

Sedangkan pada MOS, pengawasan dari kepala sekolah dan guru pembimbing sangat diperlukan. “Harus ada arahan dan pengawasan dari guru,” kata Arif. Hal ini untuk mencegah adanya kegiatan MOS yang menyimpang.

6. Follow Up

Setelah berakhirnya kegiatan orientasi, penting bagi panitia memfollow up kegiatan tersebut. Hal ini akan bermanfaat sebagai koreksi untuk kegiatan orientasi pada tahun mendatang dan berefek pula pada mindset positif mahasiswa baru terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa.

Tahun 2015 lalu, untuk mencegah penyimpangan, selama tiga hari pelaksaan kegiatan MOS Dinas Pendidikan DKI Jakarta telah mengeluarkan surat edaran Nomor 59/SE/2015 yang berisi tentang panduan pelaksanaan MOS. Dalam surat edaran tersebut telah disebutkan agar kegiatan MOS dapat mengenal, beradaptasi dan menyatu dengan warga dan lingkungan sekolah. Surat edaran itu pun melarang penggunaan atribut atau aksesoris dan perlengkapan yang tidak pantas dan tidak mendidik digunakan oleh siswa baru.

Dibutuhkan kesadaran bersama untuk bisa memutuskan rantai militer dalam kegiatan orientasi. “Oleh karena itu melalui tulisan ini saya menganjurkan kepada seluruh teman mahasiswa yang ambil bagian dalam pembekalan mahasiswa baru untuk mampu bersikap sebagaimana mestinya. Ospek yang selama ini dinilai kurang terpuji dan memperlihatkan kekerasan fisik harus segera diubah menjadi ospek yang bervisi akademis. Hal tersebut penting sebagai langkah awal dalam mewujudkan situasi kampus yang elegan,” tutup Hendra yang juga aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat.

Menciptakan Kegiatan Orientasi (MOS/OSPEK) yang Ideal dan Terpelajar

Sumber :

http://m.okezone.com/read/2012/08/02/367/672285/mewujudkan-peran-ospek-yang-bervisi-akademis

http://nasional.sindonews.com/read/1030729/149/ospek-menarik-dan-mendidik-1439003792

https://m.tempo.co/read/news/2015/07/27/083686737/seperti-apa-ospek-dan-mos-yang-ideal