Tips Memilih Sekolah yang Tepat untuk Anak

Tips Memilih Sekolah Yang Baik Secara IslamiTips Memilih Sekolah yang Tepat untuk Anak, Sudah ancang-ancang memasukkan si kecil ke sekolah tahun ini? Atau malah sudah punya sekolah pilihan untuknya? Saat ini banyak sekali sekolah yang tersedia untuk anak-anak. Setiap sekolah memiliki kurikulum, pendekatan, cara pengajaran, serta nilai-nilai yang berbeda.

Terdapat pandangan baru mengenai pendidikan yang tepat untuk anak. Pendekatan cara belajar aktif, yang tidak menekankan pada tes saja, dan merangsang rasa ingin tahu anak menjadi lebih penting karena anak-anak membutuhkan sekolah yang mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya

Tips Memilih Sekolah yang Tepat untuk Anak

Kita sebagai orangtua tidak bisa tahu tantangan apa yang akan anak hadapi nanti. Dibutuhkan lingkungan dan sekolah yang dapat membentuk anak menjadi pembelajar sejati yang akan terus belajar sepanjang hidupnya. Sehingga apapun tantangannya bisa mereka hadapi nanti. Rahma Paramita, M.Psi., psikolog anak, memberikan tips dalam memilih sekolah terbaik untuk anak.

1. Kebutuhan Psikologis Dasar

Pilih sekolah dengan memperhatikan kebutuhan psikologis mendasar anak dan memperhatikan tahapan perkembangan anak. Contohnya, kebutuhan anak untuk merasa mampu. Apakah sekolah tersebut misalnya memberikan kesempatan bagi anak untuk menampilkan kebiasaannya, atau apakah sekolah memberi kesempatan kepada anak untuk mengikuti kompetisi meskipun ia tidak berprestasi.

Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi, jangan terlalu dini memaksakan pendidikan yang ‘serius’ bagi anak agar masa bermainnya tidak terenggut. Apalagi kalau Anda masih membebani anak dengan sederet les tambahan, mulai dari membaca, berhitung, piano, balet, dll. Pendidikan untuk anak-anak di bawah usia enam tahun tak harus selalu berupa pendidikan formal. Playgroup atau taman bermain, prasekolah maupun TK seharusnya hanya menjadi fasilitator dalam menstimulasi perkembangan anak, baik fisik (motorik kasar maupun halus), mental (kognitif), emosi, sosial, dan kemampuan berbahasanya.

2. Kebutuhan Unik atau Individual Anak

Karena tiap anak itu unik dan berbeda, maka sekolah yang baik adalah sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan unik atau individual anak. Sekolah yang seperti ini biasanya melakukan pembedaan cara pengajaran, misalnya memberikan tugas yang lebih sulit untuk anak yang sudah lebih advanced atau menerangkan dengan menggunakan alat bantu gambar untuk anak yang memiliki gaya belajar visual.

Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki ‘unconditional love’. Artinya, guru-guru di sekolah itu bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntut anak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, dan mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugasnya. 

3. Tujuan Jangka Panjang Orangtua

Pilih sekolah yang dapat membantu dalam pencapaian tujuan jangka panjang orang tua terhadap anak masing-masing. Artinya sekolah harus memiliki nilai-nilai yang sama dengan orangtua. Misalnya bila orangtua menginginkan anak memiliki kemandirian, apakah sekolah tersebut melakukan hal-hal yang bisa membuat anak mandiri atau selalu membantu anak dalam melakukan segala sesuatu sehingga tidak melatih kemandirian anak.

Kembali lagi lihat visi dan misi sekolah. Apakah sekolah tersebut bertujuan menciptakan anak-anak dengan nilai tes yang bagus atau membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan belajar (seperti kemampuan analisa, riset, penyelesaian masalah) sehingga dapat menjadi pembelajar mandiri.

4. Konsep Belajar

Sekolah yang menggunakan konsep belajar melalui pengalaman (experiential learning), memberikan stimulasi pada anak melalui pengalaman bermain dan eksplorasi langsung terhadap dunia di sekitarnya. Sekolah-sekolah ini biasanya mengajak murid-muridnya langsung ‘terjun’ ke alam untuk mempelajari apa yang hendak dipelajari; seperti belajar tentang sapi dengan melihat langsung seekor sapi, atau kalau belajar menggambar, itu dilakukan di halaman atau di alam terbuka. Biasanya konsep seperti ini bisa ditemukan di sekolah-sekolah alam.

Ada pula sekolah yang mengedepankan konsep belajar aktif (active learning), dengan melatih anak untuk selalu kreatif dengan menciptakan berbagai kreasi dari benda-benda di sekitarnya. Contoh, kardus bekas tisu gulung, karton susu, kaleng bekas minuman.

5. Dua Bahasa

Bagaimana dengan soal bahasa? Benarkah sekolah bilingual lebih baik? Ternyata sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan efektivitas mengajarkan dua bahasa (Inggris dan Indonesia) pada masa golden age anak (sampai usia 5 tahun).

Bila anak tepat waktu dalam perkembangan bahasanya (cooing muncul di usia sekitar 2-3 bulan, babbling di usia sekitar 6-8 bulan, kata pertama di usia sekitar 1 tahun), kemungkinan besar ia tidak akan mengalami telat bicara. Dan bagi anak-anak ini, bersekolah di sekolah bilingual tidak akan jadi masalah. Sebaliknya, bila tahapan-tahapan itu tidak muncul di usia yang tepat, bahasa asing yang harus dia serap selain bahasa ibu, bisa-bisa malah membuat ia jadi telat bicara.

6. Biaya

Satu lagi pertimbangan yang tak kalah penting adalah faktor biaya. Banyak orangtua rela membayar mahal agar anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Tapi, tak ada salahnya tetap memperhitungkan apakah biaya yang Anda keluarkan akan sesuai dengan apa yang didapat si kecil bila bersekolah di situ. Uang sekolah yang tinggi, misalnya, tentu rasanya tak sepadan bila fasilitas pendidikan di sekolah tersebut ternyata kurang memadai. Tapi, semahal apa pun, jangan lupa untuk mempertimbangkan bahwa sekolah mahal dan fasilitas yang aduhai pun bukanlah segalanya.

Bila perlu, lakukan kunjungan ke sekolah. Selain meninjau lokasi, fasilitas, dan suasana sekolah, sempatkan juga untuk berbincang-bincang dengan kepala sekolah, guru, murid, atau mungkin orangtua lain yang ada di sekolah. Berikut adalah daftar yang dapat dilihat ketika orangtua berkeliling ke sekolah-sekolah: 

1. Manajemen

Perhatikan saat pertama berkunjung ke sekolah tersebut, apakah disambut dengan baik dan ramah, dijelaskan dengan sabar, atau sebaliknya untuk memperoleh informasi terkesan ‘dilempar’ kesana kemari, atau bahkan terkesan dilarang dan ‘diusir’.

Itu artinya secara sistem, sumber daya, dan kesiapan sekolah masih berantakan dan tidak terkoordinasi dengan baik. Hal ini akan berpengaruh pada kegiatan belajar mengajar nantinya, bisa jadi banyak guru yang tidak ramah dan tidak sabar saat mengajar di kelas.

2. Pengaturan kelas

Kelas yang baik adalah apabila ada ruang yang cukup untuk anak bergerak, ruang untuk berkumpul dan bisa terjadi interaksi dengan baik antara guru-murid.

3. Dinding

Apakah terisi dengan hasil karya siswa atau poster yang terjual di toko buku. Perhatikan juga apakah hasil karya yang ditempelkan tanpa kesalahan, atau hanya dari siswa terbaik, atau apakah semua hampir sama. Kalau ya, berarti sekolah tersebut tidak memperhatikan perbedaan kebutuhan pada masing-masing anak. Karena guru seharusnya menyiapkan beberapa tugas yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak.

4. Wajah siswa di kelas

Perhatikan wajah siswa, apakah mereka bersemangat dan sibuk mengerjakan tugas atau melakukan kegiatan. Hal ini bisa menunjukkan apakah guru memberi kegiatan yang cukup menarik untuk anak atau tidak.

5. Cara guru berinteraksi dengan murid

Hubungan guru-anak seharusnya hangat dan tulus, tidak bersifat mengendalikan dan memerintah.
Lingkungan sekolah. Suasana sekolah yang menyenangkan dan membuat orang “betah” untuk menghabiskan waktu. Memiliki perpustakaan sekolah yang cukup lengkap. Staf dan guru yang ramah terhadap semua pengunjung dan siswa.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut ibu bisa menentukan apakah sekolah tersebut baik dan tepat untuk ibu atau tidak.

6. Jajanan

Perhatikan apakah banyak penjual makanan yang tidak jelas di depan sekolah, apakah sekolah memiliki kantin tersendiri, atau apakah sekolah lebih menganjurkan membawa bekal dari rumah?

Jika sekolah membiarkan banyak penjual makanan yang tidak jelas berkeliaran di sekitar sekolah bahkan membiarkan anak-anak membelinya, itu artinya sekolah tidak peduli pada kesehatan anak.

7. Pergaulan Anak

Tengoklah kantin pada waktu istirahat dan anak-anak tengah makan atau berkumpul di sana. Perhatikan apa yang menjadi obrolan mereka, apakah mereka menggunakan kata-kata yang halus atau sebaliknya. Jika anak-anak banyak melakukan dan membicarakan hal negatif, maka itu yang kemungkinan ditularkan kepada anak Anda melalui pergaulan. Artinya sekolah kurang memperhatikan perkembangan akhlak.

8. Kebersihan

Hal paling utama dan sederhana dalam menilai aspek ini adalah dengan melihat toilet sekolah. Jika toilet kotor dan bau, jelas sekolah tidak perduli pada kebersihan. Toilet adalah indikator dan barometer utama kepedulian pihak pengelola terhadap institusi yang dipimpinnya.

Sekolah yang baik tidak harus selalu yang gedungnya mentereng, atau alat-alatnya serba lengkap. Sekolah yang baik adalah yang suasana belajarnya nyaman dengan pergaulan dan lingkungan yang kondusif, serta bisa mendorong kemandirian anak dan mengembangkan kemampuan sosial maupun kematangan emosinya.

Tips Memilih Sekolah yang Tepat untuk Anak

Sumber :

1. http://www.ayahbunda.co.id/balita-tips/tips-memilih-sekolah-terbaik-

2. http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/trik+memilih+sekolah+anak

3. https://mobile.facebook.com/AYAH-EDY-Parenting-141694892568287/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon