Mengatasi Keterbatasan

Keterbatasan kerapkali menjadi dalih mengapa seseorang merasa tidak mampu meraih apa yang diharapkan. Alasan seperti kurang pandai, kurang beruntung, tidak berpengalaman, dan lain sebagainya menjadi ungkapan pesimistis nan lazim dikambinghitamkan atas ketidakberanian seseorang dalam mencoba. Lalu apakah benar jika ketidakmampuan tersebut merupakan sesuatu yang mutlak dan tidak dapat diatasi?

Salah seorang pendaki profesional dari Indonesia, Sabar Gorky, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berprestasi mencapai apa yang diimpikan. Atlet disabel kelahiran Solo ini telah mendaki puncak-puncak tertinggi dunia, mulai dari Kilimanjaro, Elbrus, hingga Aconcagua. Dengan mengandalkan tumpuan satu kaki dan tongkat bantu berjalan, ia berhasil melampau rintangan sulit hingga mencapai puncak. Bahkan ia pernah memenangkan beragam kejuaraan wall climbing tingkat nasional maupun internasional dan mengharumkan nama Indonesia.

Masih kurang populer dipahami bahwa keterbatasan itu sebenarnya ada di dalam pikiran. Pola pikir yang membatasi adalah sumber utama yang secara tidak sadar mendikte diri untuk tidak berani bertindak dan mencoba, sehingga seseorang merasa tidak cakap, tidak bisa, dan tidak mampu. Jika pemikiran tersebut diyakini terus-menerus, lambat laun akan menjelma menjadi kenyataan.

Adakah kemungkinan untuk mengubah pola pikir seperti itu dan mengatasi keterbatasan? Tentunya ada. Manusia adalah makhluk kebiasaan, maka dengan memperbaharui kebiasaan yang lebih positif, akan menghasilkan output yang juga lebih positif. Beberapa hal berikut dapat dilatih untuk menata kembali pola pikir ”tidak mampu” menjadi ”mampu”, agar dapat mengatasi keterbatasan diri.

  1. Berani Mencoba
    Di balik sesuatu yang tidak diketahui, ada hal menarik untuk didapatkan. Untuk mendapatkan hal tersebut yang harus dilakukan adalah mencoba meraihnya. Memang pada awalnya akan muncul rasa takut untuk mencoba, namun paksalah diri ini untuk melawan rasa takut tersebut. Bagaimanapun juga langkah awal dalam mengatasi keterbatasan adalah keberanian untuk mencoba.
  2. Hilangkan Keraguan
    Adalah hal manusiawi jika seseorang merasa ragu sebelum bertindak. Biasanya keraguan muncul karena takut gagal. Padahal dengan bertindak, kita juga berpeluang meraih keberhasilan. Jika kita menyadari bahwa kegagalan dan keberhasilan itu berjalan beriringan, maka akan mudah untuk menolerir kegagalan dan lebih percaya diri untuk menggapai kesuksesan. Pada kenyataanya mengerjakan sesuatu dengan ragu-ragu malah memperbesar peluang meraih kegagalan. Untuk itu, hilangkan keraguan saat akan melaksanakan sesuatu.
  1. Katakan Hal Positif Pada Diri Sendiri
    Jika perkataan positif memiliki dampak yang bagus bagi orang lain, maka perkataan positif juga berdampak baik bagi diri sendiri. Kata-kata positif tidak hanya memberikan support dan motivasi batin, namun juga membentuk pola pikir positif. Semakin positif kata-kata yang senantiasa kita sugestikan, semakin terlatih pola pikir untuk berpikir positif. Semakin positif pola pikir, semakin tangguh dalam mengatasi keterbatasan.
  1. Ubah Cara Pandang
    Cara pandang memberikan dampak yang signifikan atas sikap dan tindakan yang dikerjakan. Jika kita mampu merubah cara pandang akan sesuatu, kita akan mampu melihat sudut pandang baru. Cara pandang akan sangat bermanfaat saat menemui hambatan ataupun kegagalan. Cara pandang negatif cenderung mencari kesalahan, alasan, dan pembenaran, sedangkan cara pandang positif membantu kita untuk tetap berada di jalur dan melihat sebuah kesempatan untuk berkembang.
  1. Berdamai dengan Diri Sendiri
    Tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Berdamai dengan diri sendiri sangatlah penting untuk memudahkan diri ini menerima apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Kelebihan diri tidak hanya menyadarkan kita untuk tidak terlalu bersedih memiliki kekurangan, namun juga mengantarkan kita mencapai sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan kekurangan yang kita miliki adalah pengingat agar kita senantiasa belajar, tumbuh berkembang, dan tetap menjadi manusia yang bersahaja. (F. Pondrafi)