Apa Kata Mereka tentang Buku Dongeng Anatomi?

Hal yang paling menggembirakan bagi seorang penulis adalah ketika pembaca menyukai karyanya, ketika karyanya mampu menyentuh hati pembaca dan dapat membawa manfaat untuk kebaikan bagi siapa saja yang membacanya. Itulah yang saya rasakan sebagai seorang penulis.

Meski sudah menerbitkan beberapa buku sebelumnya, tapi rasa puas dan bangga terhadap karya yang saya hasilkan baru nyata terasa setelah buku Dongeng Anatomi terbit dan beredar di tengah-tengah masyarakat. Mengapa? Tak lain karena sambutan para pembaca yang begitu “wow” terhadap buku Dongeng Anatomi. Mereka begitu antusias untuk memiliki buku Dongeng Anatomi, baik untuk dibaca sendiri meski mereka sudah dewasa (sementara buku Dongeng Anatomi adalah buku anak-anak), maupun untuk dihadiahkan kepada anak, adik, keponakan, dan sebagainya.

Tampilan luar buku Dongeng Anatomi seperti “menyihir” orang yang meliriknya agar memilikinya. Judulnya membuat orang penasaran dengan isinya. Sungguh, kata-kata ini bukan hanya mengada-ngada atau sekadar pujian terhadap karya sendiri, tapi ini kesimpulan yang saya dapatkan dari mereka yang melihat buku Dongeng Anatomi.

“Dari judulnya saja sudah buat tertarik … Dongeng Anatomi ….” Begitu kata salah seseorang yang membeli langsung buku Dongeng Anatomi dari saya, plus tanda tangan tentunya, seperti permintaannya.

Dan, yang lebih menggembirakan, setelah memiliki dan membaca buku Dongeng Anatomi, beberapa di antara mereka dengan sukarela memberi penilaian positif terhadap buku Dongeng Anatomi, berupa pujian terhadap buku Dongeng Anatomi yang telah memikat hati mereka. Bahkan ada yang meresensi buku Dongeng Anatomi. Bagi saya dan bagi penulis-penulis lain, penilaian positif para pembaca terhadap karya yang dihasilkan adalah sesuatu yang istimewa, dan juga menjadi motivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Buku Dongeng Anatomi adalah karya terbaru saya. Buku yang paling disukai pembaca di antara buku-buku saya yang telah terbit. Buku yang mendapat sambutan paling baik di antara buku-buku saya. Hal ini membuat saya merasa gembira, karena itu artinya karya yang saya hasilkan pelan-pelan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hal itu membuat saya termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi ke depannya.

Nah, apa sih kata mereka tentang buku Dongeng Anatomi? Mari kita simak satu per satu!

Dongeng Anatomi Dongeng Anatomi Dongeng Anatomi Dongeng Anatomi

Ayu Ulya, seorang guru dan game designer adalah teman yang saya kenal saat dulu kami sama-sama berkecimpung di redaksi majalah anak yang ada di Aceh, majalah anak pertama dan satu-satunya di Aceh. Ia dengan tulus mengatakan bahwa buku Dongeng Anatomi telah mampu memikat hatinya. Jelasnya seperti screenshot di atas. Ini merupakan bukti bahwa buku Dongeng Anatomi tak hanya cocok dibaca oleh anak-anak saja, tapi juga bisa dinikmati oleh orang dewasa, karena pengetahuan yang terkandung di dalam cerita yang tersaji dalam buku ini tak pandang usia.

Dongeng Anatomi Dongeng Anatomi

Fardelyn Hacky, biasa saya panggil Kak Eki, adalah kakak leting saya di bangku kuliah dan juga kakak leting di Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh. Terima kasih atas testimoninya, Kak Eki!

Dongeng Anatomi

Di atas adalah foto seorang anak bernama Fathur bersama buku Dongeng Anatomi. Ibunya sudah lama menjanjikan buku Dongeng Anatomi padanya, tapi karena ada kesibukan jadinya janji untuk membelikan buku Dongeng Anatomi masih belum bisa dipenuhi. Fathur sudah tidak sabaran untuk memiliki buku Dongeng Anatomi. Sudah berkali-kali ia menagih janji ibunya untuk memiliki buku Dongeng Anatomi. Ketika akhirnya ibunya membelikan buku Dongeng Anatomi, Fathur senang sekali. Buku yang ditunggu-tunggu akhirnya bisa dimilikinya juga.

Dongeng Anatomi Dongeng Anatomi

Sama seperti Fathur, si kecil Aisha, buah hati Nanda, juga begitu senang ketika ibunya membelikan buku Dongeng Anatomi yang sudah lama dijanjikan. Dua hari buku Dongeng Anatomi habis dilahap Aisha. Wah, benar-benar semangat sekali ya, Aisha!

Dongeng AnatomiIni Vania, siswi SD yang hobi baca dan langganan rangking 1. “Bukunya bagus. Yang malas keramas jadi rajin,” kata Vania setelah membaca buku Dongeng Anatomi.

Dongeng Anatomi

Ummu Chelia, begitu yang tertulis di Facebook, adalah orang yang sama sekali tidak saya kenal. Saya baru mengenalnya saat ia mengirimi permintaan pertemanan dan kemudian menge-tag saya. Ummu Chelia yang sama sekali tidak saya kenal merekomendasikan buku Dongeng Anatomi karya saya sebagai bacaan untuk anak-anak. Bahkan, ia juga menulis resensi keren tentang buku Dongeng Anatomi. Terima kasih atas rekomendasi dan resensinya, Ummu Chelia! Senang sekali mendapat sambutan yang baik seperti ini.

Berikut cuplikan resensi Ummu Chelia:

 

Dongeng Anatomi

Dongeng Anatomi

Resensi selengkapnya dapat dibacadi: https://ummuchelia.wordpress.com/2016/07/14/dongeng-anatomi-saatnya-mendengar-tubuh/

Dongeng Anatomi

Izzati Safitri sama seperti Ummu Chelia, orang yang tidak saya kenal sama sekali, juga merekomendasikan buku Dongeng Anatomi yang katanya keren dan menjadi buku favorit anak-anak di rumah. Wah, Alhamdulillah buku Dongeng Anatomi dianggap keren oleh mereka yang sudah melihat langsung.

Demikianlah sebagian testimoni untuk buku Dongeng Anatomi, di samping testimoni lainnya yang disampaikan secara lisan. Akhir kata, semoga buku Dongeng Anatomi bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya! (Eramayawati)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon