Kumpulan Dongeng Pembentuk Karakter Pemimpin: Ide Muncul Saat Memasak

Dongeng Pembentuk Karakter PemimpinSebagai seorang penulis bacaan anak, terkadang otak saya kepenuhan ide. Maklum, melihat kanan eh nemu ide. Melihat ke kiri, eh nemu ide. Begitu banyak ide yang berdesakan dalam benak saya, namun sayang, tidak semuanya tereksekusi dengan baik.

Mengapa demikian? Biasanya, karena kadang saya kehilangan fokus. Mau nulis apa, ya? Mau bikin yang kayak gimana, nih? Trus akhirnya jadi bingung, dan ide-ide itu saya simpan saja di komputer. Beruntung sekali, saya bekerja sama dengan Penerbit Tiga Serangkai. Para editornya tak segan menyumbang pemikiran untuk format sebuah buku. Seperti buku ini. Kumpulan Dongeng Pembentuk Karakter Pemimpin ini, disodorkan pada saya dalam bentuk outline.  Pesannya jelas, penerbit ingin membuat sebuah buku yang mengajak anak-anak untuk memiliki karakter seorang pemimpin.

Wah, saya senang sekali dengan tema ini. Apalagi, buku ini boleh dibuat dalam bentuk dongeng. Iya, saya memang suka bikin dongeng. Saya pun mulai mencari tokoh yang pas untuk dongeng anak-anak. Kurcaci, robot, peri, hewan, sayuran, bahkan sebuah teko! Semuanya saya tuliskan, lalu saya buatkan sifat dasar atau karakter tiap tokoh.

Oya, dalam buku ini ada 20 cerita lho. Jadi saya punya 20 tokoh dengan karakter yang berbeda-beda. Setelah membuat lembar karakter tiap tokoh, saya lalu menuliskan alur ceritanya secara garis besar saja. Awal – pertengahan – dan akhir. Setiap cerita harus mengandung tiga unsur tersebut. Setelah itu, barulah saya mulai menulis dengan rapi.

Dongeng Pembentuk Karakter Pemimpin

Misalnya dalam cerita Bocis Jadi Buncis. Tokohnya adalah sebuah bulatan. Iya, bulatan seperti bola, namun punya mata, tangan dan mulut. Bocis berjalan dengan cara menggelinding. Keren, kan? Hehe. Sifat Bocis usil, nakal, dan agak keras kepala. Itulah sebabnya, dia jadi mendapat masalah dari Penyihir Hidung Bengkok. Penyihir Hidung Bengkok pun menyihirnya jadi BUNCIS! Iyaaaa … buncis yang sayuran ituuuu. Yang warnanya hijau dan panjang hehehe.
Kebayang kan, Bocis yang sehari-hari menggelinding, kini tak bisa menggelinding lagi? Bocis pun akhirnya minta maaf pada Penyihir Hidung Bengkok, dan minta agar Penyihir Hidung Bengkok mengembalikan tubuhnya seperti semula. Bocis tak bisa hidup sebagai buncis!

Nah … ceritanya seru dan lucu, kan? Tapiiii … cerita ini juga mengandung pesan moral yang keren bagi anak-anak. Jangan segan untuk minta maaf! Berbuat salah itu manusiawi, namun apa yang harus kita lakukan usai membuat kesalahan? Tentu meminta maaf dan tidak mengulanginya lagi. Itulah salah satu karakter seorang pemimpin. Pemimpin yang baik, tak pernah malu mengaku jika punya kesalahan.

Naaah, beres satu cerita … maka bergeraklah saya ke cerita kedua dan seterusnya. Eits, kelihatannya gampang banget ya? Hmm, itu semua karena saya terbiasa menyimpan ide-ide saya di komputer. Jadi, begitu saya sudah merumuskan karakternya seperti apa, saya tinggal ngintip ke komputer saya. Apa saja ide yang pernah saya tuliskan? Nah, tinggal diutak-atik deh alur ceritanya.

Maka, buat teman-teman yang ingin jadi penulis, kerahkanlah semua pancaindramu untuk menyerap apa yang terjadi di sekeliling kita. Bocis jadi Buncis itu muncul begitu saja saat saya menyiangi buncis untuk dimasak asem-asem buncis, hehehe. Saya membayangkan, gimana kalau buncis itu hidup, ya? Bagaimana cara dia bergerak?  Melompat-lompat kah? Dan seterusnya.

Jadi, penasaran kan dengan isi buku ini? Yuk, beli dan baca.  Dijamin, anak-anak akan suka karena semua ceritanya keren, tidak biasa-biasa saja, dan jauh dari kata membosankan.

 

Salam,

Dian Kristiani

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon