Berawal dari Bercerita bersama Si Kecil Miqdad

Bebe dan Penghuni Hutan HijauBebe dan Penghuni Hutan Hijau awalnya hanya ada satu cerita yaitu Bebe dan Raja Lebah. Cerita ini mendadak muncul saat anak saya, Miqdad, berusia 2,5 tahun. Saat itu Miqdad tak kunjung tidur di malam hari. Miqdad asyik berceloteh tentang boneka beruang biru miliknya. Miqdad menggunakan guling dengan seolah-olah Bebe (beruang biru milik Miqdad) sedang memanjat pohon. Kemudian saya bertanya, “Bebe lagi ngapain?” dan Miqdad menjelaskan kalau Bebe memanjat memanjat pohon untuk mencari makanan. Spontan saya ambil Bebe dan menawarkan untuk bercerita. Miqdad pun setuju. Jadilah cerita Bertemu Raja Lebah beserta nyanyian ala-ala saya. Miqdad suka sekali dengan lagunya. Sampai saat mau makan pun Miqdad minta dinyanyikan “Bebenya makan, haukk! Haukk! Bebenya minum, shruk! Shruk! Bebe suka makan madu! Bebe si beruang madu!” begitulah nyanyian itu terus dihafal Miqdad dengan suara yang menggemaskan.

Akhirnya saya pun berusaha menuliskan cerita Bebe itu di buku dengan gambar ala kadarnya buatan saya. Miqdad suka karena Bebenya ada di gambar. Kemudian setelah beberapa kali menceritakan Bebe, Miqdad bosan dan ingin cerita baru. Saya pun mulai berpikir dan mencari teman untuk tokoh Bebe. Akhirnya muncullah Bubu dan teman-temannya. Awalnya saya hanya membuat daftar hewan yang bisa disandingkan dengan Bebe kemudian mulai menuliskan sifat masing-masing hewan. Setelah semuanya lengkap, saya pun mulai mencari ide cerita dengan tokoh tetap Bebe dan tokoh tamu beberapa hewan yang sudah saya tulis.

Bebe dan Penghuni Hutan Hijau

Saya berusaha menyelipkan satu pesan di setiap cerita untuk Miqdad, karena awalnya memang hanya untuk simpanan cerita saat Miqdad ingin cerita baru. Setidaknya, saya ingin Miqdad berusaha mengerti hal baik dan belajar meski hanya dari cerita. Tapi itu cukup ampuh, karena setelah Bebe dan Raja Lebah, setiap Miqdad ingin sesuatu, Miqdad selalu minta izin. Saya pun menyelipkan pesan selanjutnya di tiap cerita. Pesan yang ingin saya sampaikan untuk Miqdad.

Setelah Miqdad bosan dengan Bebe dan ingin berganti tokoh Buaya, efek setelah mendapat boneka buaya besar, saya pun berpikir bahwa naskah ini tak seharusnya saya simpan sendiri. Mungkin ada ibu di luar sana yang ingin menerapkan hal serupa dengan saya, mengajari pesan moral pada anak melalui cerita. Maka saya kirimkanlah naskah ini ke Penerbit Tiga Serangkai. Berharap ada kabar baik agar bisa berbagi cerita dan manfaat. Tiga bulan berlalu, empat bulan berlalu hingga akhirnya naskah saya di-acc. Senang? Tentu saja. Meski mungkin ada banyak buku edukasi di luar sana yang lebih bagus dari milik saya, tetap saja saya senang. Kenapa? Karena ini adalah cerita yang saya buat dengan Miqdad. Ada banyak kenangan di sini.

Harapan saya hanya satu, yakni apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi ibu-ibu lain yang memiliki anak kecil seperti saya. Ceritanya sederhana dan insya Allah mudah jika ingin dihafal dan diceritakan dengan memakai boneka seperti yang saya lakukan.

Terima kasih untuk penerbit Tiga Serangkai yang membuat buku ini menjadi nyata dan insya Allah bermanfaat. Terkhusus untuk Miqdad Syafiq Aljauhari yang selalu memberi Mama ide dengan semua celotehanmu. Terima kasih.

 

Salam literasi,

Cucu Nurhasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon