Memutar Kembali Kenangan Pahit Manis dalam Dunia Kakak Beradik

Serunya Punya Saudara

Sungguh menyenangkan bagi saya menuliskan kisah ini. Memasuki kembali labirin memori, menyusuri lekuk liku dan keseruan-keseruan di dalamnya. Juga memutar kembali kenangan pahit manis serta momen-momen seru yang terjadi dalam dunia kakak beradik, lalu menuangkannya dalam bentuk cerita fiksi anak. Saya yakin, semua orang memiliki memori yang berkesan tentang serunya punya saudara.

Berawal dari tawaran Mbak Yenni, editor Tiga Ananda untuk menulis kisah-kisah fiksi realis bertema hubungan kakak beradik. Saya menyambut hangat kepercayaan tersebut. Kalaupun sempat terbersit keraguan dalam hati, itu terkait tenggat waktu yang saya sanggupi untuk menyelesaikan tulisan ini. Mengingat waktu yang memungkinkan bagi saya untuk menulis yakni di malam hari dan di sela-sela kesibukan di kampus, maka saya sampaikan bahwa saya meminta waktu sekitar dua bulan untuk menyelesaikannya. Alhamdulillah, kami sepakat.

Dari tema besar tersebut, saya coba kembangkan menjadi empat belas cerita. Ada cerita-cerita dari sisi adik, dan ada yang dari sisi kakak. Untunglah, pengalaman pribadi saya (sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara) terkait warna-warni kehidupan kakak beradik cukup dinamis dan kaya warna. Pengalaman tak langsung dari curhatan teman, dan hasil observasi juga memberikan ide-ide yang menunggu untuk dituangkan. Berbagai hal itu menginspirasi cerita-cerita dalam buku Serunya Punya Saudara.

Serunya Punya Saudara

Misalnya untuk cerita ke dua dalam buku ini: Mau Ikut Ke Mana Saja. Saya senyam-senyum sendiri. Ternyata, menuliskan cerita ini menghadirkan rasa geli dan membuat kangen dengan masa ketika adik suka mengekor saya ke mana saja sewaktu kecil. Meski cerita ini murni fiksi, namun kenangan terkait masa kecil yang manis bermunculan dari laci-laci, zzapp…just like a magic! Mudah-mudahan, Teman-Teman yang membaca buku ini juga menikmati kisah ini ya!

Beberapa kisah dalam buku ini memang cukup terasa aroma sibling rivalry-nya. Seperti kisah keempat (Mama, Kok Begitu, Sih?) dan kisah keenam (Kembaran lagi?). Bagaimana Hisyam begitu menyita perhatian Mama dan Papa, dan menghadirkan rasa kesal dalam diri Andi. Namun, apakah rasa iri hati itu masih terus muncul ketika Andi tahu rahasia di balik sikap Mama dan Papa itu? Rasa sebal Febi pada adiknya, Tiara, yang selalu minta kembaran sepertinya juga tidak asing, ya?

Jujur, saat menuliskannya, saya juga mellow dan terhanyut dalam pengalaman pribadi. Maklum, cukup banyak kisah saling iri dan bahkan berantem antarsaudara juga yang pernah hadir secara langsung. Namun, tanpa itu, kok sepertinya hidup kita berasa flat ya? He he he..

Kisah kelima dalam buku ini memberikan sentuhan tersendiri. Bagaimana ya, kalau kebetulan kita dianugerahi adik berkebutuhan khusus? Bagaimana kalau tidak seperti adik teman kita yang lain, beberapa perilaku adik kita ini berbeda? Elsa pun sempat merasa malu punya adik berkebutuhan khusus seperti Yoga. Lalu, apakah benar semua temannya menganggap adiknya itu aneh?

Sebagai dosen psikologi perkembangan dan juga psikolog anak, saya punya beberapa pengalaman terkait anak-anak berkebutuhan khusus. Salah satu hal penting terkait ini adalah terkadang saudara dari anak-anak berkebutuhan khusus juga mengalami rasa iri dan merasa kurang perhatian. Nah, mudah-mudahan kisah Elsa dan Yoga bisa mewakili jeritan hati mereka yang memiliki pengalaman senada.

Terus terang saja, proses menulis cerita demi cerita dalam buku Serunya Punya Saudara ini berlangsung seru juga! Saya baru menyadari kalau saya lebih mudah saat menuliskan kisah dari sudut pandang adik daripada sebagai kakak. Wah, gawat, pikir saya ketika itu. Maka, saya pun minta bantuan pada orang-orang tercinta dalam keluarga untuk membantu brain storming ide, khususnya untuk kisah-kisah dari sudut pandang kakak. Mungkin, karena “hanya” punya satu adik dan punya dua kakak, soul saya lebih kuat sebagai adik, ya? Belum lagi, saya juga punya tiga sepupu di sebelah rumah yang ketiganya juga kakak bagi saya. Makin berjiwa adik-lah saya, he he….

Dari sisi waktu penulisan, alhamdulillah, keempat belas tulisan bisa saya selesaikan sesuai kesepakatan dengan editor. Jujur, editor saya di Tiga Ananda sangat teliti dan detail. Pengalaman saya menulis buku fiksi anak memang masih belum banyak, jadi saya beruntung banget mendapat bantuan dan berbagai masukan Mbak Yenni, demi penyempurnaan buku ini dalam berbagai hal. Belum lagi sapaan dan tutur kata beliau sangat ramah dan bersahabat. Bahkan, ketika saya mengalami sedikit kendala yang membuat finishing Serunya Punya Saudara sedikit mundur, Beliau bersedia memahami. Kesan positif tertoreh dalam diri saya terkait kerjasama dengan editor Tiga Ananda. Makasih buanyaakk, Mbak Yenni!

Sedianya, buku Serunya Punya Saudara ini terdiri atas 14 cerita. Namun, melalui berbagai pertimbangan, 3 cerita tidak jadi masuk di dalamnya. Di tahap ini, sebagai penulis, tentu sangat mungkin timbul rasa kecewa ketika ada cerita yang harus tereliminasi. Namun, saya pribadi mencoba memaknainya sebagai bagian dari proses perjalanan buku Serunya Punya Saudara untuk lahir/terbit dalam bentuk terbaiknya.

Di akhir proses, saya meminta ada lembar persembahan istimewa untuk Nyssa dan Alvin, buah hati saya. Alhamdulillah, permintaan tersebut pun disetujui. Bagi saya, mereka penyemangat dalam berkarya, dan untuk kedua kakak beradik itulah buku ini saya persembahkan.

Ketika editor menunjukkan versi final Serunya Punya Saudara, saya berucap syukur. Ilustrasi cantik oleh Mbak Dian Ovieta mampu memperkuat pesan kisah-kisah dalam buku ini. Ilustrasi yang cute dan sangat pas menerjemahkan cerita di dalamnya. Kover yang cantik juga banyak menuai komentar positif dari beberapa orang yang melihatnya. Terima kasih, Mbak Dian!

Berbeda dengan buku yang pertama, Tetap Teman Meski Beda, yang saat ia lahir saya masih belum ngeh dengan proses kelahiran sebuah buku. Maka, begitu kover dan lay out final sudah di tangan, saya memberanikan diri membuka pre order. Alhamdulillah, ternyata banyak juga yang pre order (PO) Serunya Punya Saudara!

Di situ, saya juga menyadari bagaimana dalam proses terbit sebuah buku, penulis harus bekerjasama dengan berbagai pihak. Antara lain editor, pihak penerbit, marketing, para calon pembeli dan pembaca buku kita. Penulis bisa belajar banyak dari tiap proses penerbitan dan juga promosi buku kita, lho! Juga menambah relasi dan juga saudara! Seru, deh!

Baiklah, terima kasih sudah menyimak lika-liku proses kelahiran Serunya Punya Saudara. Semoga buku ini bermanfaat, berkesan, dan memperoleh tempat yang indah di hati para pembaca sekalian. Aamiin. Last but not least, ingat untuk membeli Serunya Punya Saudara di toko-toko buku kesayangan Anda, ya! (Nurul Hidayati)

1 Comment

  1. Makasih sharingnya Mbake Nurul, pelajaran buat saya kelak

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon