Mencari Sebuah Nama

Seni Membuat HerbariumTerus terang, buku Seni Membuat Herbarium adalah tema yang agak berat bagi saya. Saat Mas Didit menawarkannya kepada saya, ada rasa khawatir tidak mampu menggarapnya. Hal itu berhubungan dengan latar belakang pendidikan saya yang bukan dari bidang sains.

Akan tetapi, saya kemudian yakin, Mas Didit menawarkan penulisan naskah ini kepada saya sudah dengan banyak pertimbangan, salah satunya karena saya menyukai dunia tumbuhan. Bukankah rasa senang seringkali mampu mendobrak kebuntuan ^_^. Jadi, sebelum menolak, saya coba eksplorasi bahan-bahan seputar herbarium melalui internet. Saya harus bisa meyakinkan diri saya, bahwa referensinya memadai, sehingga saya bisa belajar banyak sebelum merancang dan menulis naskahnya. Hasilnya, referensi ilmiah tentang herbarium dalam bahasa Indonesia memang terbatas. Namun alhamdulillah, karena sumber berbahasa Inggris lumayan melimpah, saya putuskan  untuk menerima tawaran tersebut. Mas Didit memberi saya waktu sekitar empat bulan untuk menyelesaikannya.

Seni Membuat Herbarium

Hal tersulit dalam penulisan buku nonfiksi anak adalah memilah dan meramu tumpukan referensi menjadi lebih sederhana sesuai tema. Selain itu, karena buku ini  berisi enam puluh persen keterampilan, penyajian naskah membutuhkan foto-foto yang terperinci untuk setiap tahapnya. Sesi pemotretan memberi tantangan tersendiri. Satu adegan harus saya buat dalam beberapa sudut pengambilan agar punya pilihan yang cukup untuk diambil yang paling bagus. Selain itu, saya harus menunggu bukan hanya kelapangan waktu saya, tapi juga mood anak-anak yang akan memperagakannya. Kalau mood mereka sedang jelek, pemotretan bisa berlangsung alot. Tapi alhamdulillah, karena saya sudah menjalani proses ini untuk buku-buku sebelumnya, kendala tersebut bisa diatasi.

Seni Membuat Herbarium

Salah satu pengalaman saya yang menarik dalam penyusunan buku Seni Membuat Herbarium adalah ketika mencari informasi tentang penemu kata “herbarium”. Berdasarkan referensi berbahasa Indonesia, penemu kata herbarium adalah Turnefor (1700). Di sumber mana pun di internet, nama itulah yang keluar. Namun ketika saya coba berselancar mencari nama Turnefor di mesin pencari, tak ada satu pun situs berbahasa Inggris  bertema botani yang mencantumkan nama itu sebagai penemu herbarium. Wah, saya sempat bingung. Jika nama itu memang betul penemu nama herbarium, bukankah seharusnya situs botani di negara-negara maju akan paling dulu mencantumkannya. Bukankah referensi buku biologi kita juga berasal dari sana. Berhari-hari saya coba cari informasi tentang Turnefor. Saya berharap minimal ada satu saja situs botani terpercaya yang mencantunkan nama itu, agar pertanggungjawaban ilmiahnya  lebih kuat. Tapi hasilnya nihil.

Tak patah arang, saya yakin akan ada saatnya misteri itu bisa dipecahkan. Saya lanjut mengerjakan topik lainnya terlebih dulu. Selang beberapa waktu, Aha! moment datang. Saya tiba-tiba teringat pengalaman di masa sekolah dulu. Seringkali dalam buku-buku pelajaran, nama para penemu atau tokoh disebutkan dengan ejaan tutur bahasa Indonesia dan dibuat dalam versi singkat untuk mempermudah kita mengingat. Saya menduga, mungkin  kasus turnefor  juga serupa itu.

Berbekal dugaan tersebut, saya singkirkan kata kunci turnefor dari mesin pencari, dan menggantinya dengan kata kunci lain. Dan, alhamdulillah saya menemukan titik terang. Sebuah nama yang jika dilafalkan dalam bahasa Indonesia mirip dengan turnefor muncul di salah satu situs. Setelah saya baca deksripsinya, ternyata tokoh ini memang tercatat dalam sejarah botani sebagai penulis buku tentang tanaman obat. Ia mencantumkan kata “herbarium” untuk pertama kalinya di dalam buku yang ditulisnya itu. Nama tokoh itu adalah, Joseph Pitton de Tournefort, berkebangsaan Prancis. Berbekal nama yang benar itu, dengan mudah saya menemukan informasi tambahan lainnya dari  beberapa situs berbeda. Lega rasanya hati saya waktu itu, seperti menemukan jarum di  lapangan rumput yang luas.

Lewat proses penyuntingan dan revisi yang menurut saya semakin ketat, alhamdulillah naskah beserta desain dan layout-nya selesai. Saya berterima kasih, karena Mas Didit sebagai editor memberi peluang kepada saya untuk mempertimbangkan juga soal tata letak foto dan penambahan beberapa ornamen di dalam buku ini bahkan hingga limit waktu terakhir sebelum file masuk ke percetakan.

Harapan saya, dengan segala kekurangannya, semoga buku ini bermanfaat dan bisa menambah khazanah buku nonfiksi anak di ranah perbukuan nasional.  (Maya A. Pujiati)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon