Mengajak Anak-Anak untuk Lebih Mencintai Masjid

Aku Cinta MasjidBismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah akhir Januari 2018, buku Aku Cinta Masjid akhirnya terbit juga. Saya tahu buku ini terbit juga secara kebetulan. Saat itu salah satu teman penulis menandai saya dalam sebuah postingan fotonya. Foto itu adalah beberapa foto buku yang baru terbit di Penerbit Tiga Ananda. Waktu melihat foto kover buku tersebut, saya seolah dejavu melihat ada nama saya di salah satu kover buku yang di-posting.

“Buku ini saya yang nulis, ya? Tapi saya belum pernah lihat kover buku ini di lemari buku saya?” Kira-kira demikian batin saya waktu itu. Lalu saya telusuri beberapa komentar di postingan tersebut. Ternyata benar, semua foto kover buku yang di-posting adalah buku-buku yang baru terbit dan sahabat saya itu dapat fotonya dari salah seorang marketing yang dia kenal. Karena sahabat ini juga menjual buku-buku terbitan Tiga Ananda.

Rasa bahagia tentu saja mewarnai hati saya ketika tahu buku ini terbit. Tak sabar rasanya menunggu bukti terbit buku ini sampai ke tangan saya. Karena sebelumnya saya hampir pesimis ketika naskah ini harus menjalani proses revisi total dari konsep awal. Saya sempat berpikir, mungkinkah naskah ini akan terbit sesuai jadwal? Sebagai penulis, tentunya saya harus selalu optimis dengan ‘anak-anak’ yang akan saya ‘lahirkan’. Pembaca semua tentu penasaran kenapa saya sampai pesimis tentang naskah ini. Begini kisahnya (halah, gayanyaaa…)

Awal Desember 2016 lalu, saya mendapat email dari Mas Dhidit, salah satu editor penerbit Tiga Ananda yang selalu ingat dengan saya. Saat itu Mas Dhidit menawarkan sebuah konsep naskah cerita anak, bertema Cinta Masjid kepada saya. Setelah saya baca dan pelajari konsep tersebut, saya sangat tertarik untuk segera mengeksekusinya menjadi naskah yang keren. Karena beberapa waktu lalu, sebelum tawaran ini datang, saya juga berpikir akan membuat konsep naskah bertema Cinta Masjid.

Hanya saja saya baru sempat mengumpulkan data yang ingin saya tulis. Jadi ketika Mas Dhidit menawarkan konsep naskahnya pada saya, saya serasa mendapat durian runtuh. Betapa tidak, saya tidak perlu lagi mencari penerbit yang akan menerbitkan naskah saya nanti. Apalagi saya juga tidak perlu mencari data lagi, karena saya sudah punya data-datanya.

Tentu saja saya perlu sedikit lebih kreatif karena konsep yang diberikan Mas Dhidit agak berbeda dari konsep yang ingin saya tulis. Dalam konsepnya, Mas Dhidit meminta saya menambahkan sebuah komik pendek (4 kotak) untuk masing-masing bab. Komik itu harus sesuai dengan tema bab tersebut dan ada lucu-lucunya.

Ini tantangan tersendiri bagi saya. Karena saya tidak biasa bikin komik, apalagi komik lucu. Sehingga saya makin semangat mengerjakan konsep naskah ini. Saya segera mulai menulis dan mengirimkan sampel naskah pada Mas Dhidit. Alhamdulillah Mas Dhidit suka dengan sampel naskah yang saya buat. Malah beliau bilang ini jauh lebih baik dari perkiraan beliau.

Wah … saya serasa melambung mendapat pujian itu. Tak ada penulis yang tidak suka dengan pujian bukan? Selanjutnya saya pun menyelesaikan seluruh naskah kurang lebih dalam waktu sebulan. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan dalam proses menulis dan menuangkan ide ke dalam tulisan.

Beberapa minggu setelah naskah lengkap saya kirim, saya pun menerima surat perjanjian kerja sama dari penerbit Tiga Ananda. Saya hanya tinggal menunggu proses naskah itu diilustrasi dan diterbitkan. Sementara menunggu, saya mengerjakan naskah saya yang lain.

Namun pada bulan Juni 2017, tiba-tiba Mas Hary, editor Penerbit Tiga Ananda yang sering bekerja sama dengan saya juga, mengirim sebuah email kepada saya. Email itu mengabarkankan bahwa naskah Aku Cinta Masjid yang saya tulis tidak bisa terbit sesuai konsep awal. Konsepnya harus diubah sebagian, yakni murni nonfiksi, bukan campuran antara fiksi dan nonfiksi. Artinya, saya harus melakukan revisi besar-besaran.

Awalnya saya kecewa membaca isi email itu. Saya nggak kecewa sama Mas Hary ataupun Mas Dhidit, tapi saya kecewa pada keadaan. Saya tahu betul, Mas Hary dan Mas Dhidit terpaksa merombak konsep awal karena suatu alasan yang sangat mendasar. Jadi, saya pikir Mas Hary dan editor lain, tentunya sangat berhati-hati dengan setiap naskah yang masuk.

Saya pun memutuskan untuk menerima kenyataan ini. Saya tak mau larut dalam kecewa dan sedih. Saya mulai merevisi sebagian dari naskah Aku Cinta Masjid sesuai saran Mas Hary. Tak ada komik dan cerita di dalam naskah itu nanti. Yang ada, hanyalah pengetahuan dan wawasan tentang masjid.

Tak mengapa, karena sesuai niat awal saya, saya ingin menulis naskah/buku yang isinya mengajak anak-anak atau pembaca buku ini untuk lebih mencintai masjid. Sehingga setelah membaca buku ini nanti, mereka makin cinta masjid dan hati mereka makin terpaut pada masjid. Bukankah Allah akan memberikan syurga bagi seseorang yang hatinya terpaut pada masjid? Jadi apa pun konsep buku ini kelak, isinya tetap mengajak semua pembaca lebih mencintai masjid.

Revisi yang saya kerjakan selesai beberapa minggu kemudian. Karena saat itu ada naskah lain juga yang sedang saya tulis. Bersyukur Mas Hary tidak memberi tenggat yang cepat untuk revisi naskah tersebut.

Aku Cinta Masjid

Beberapa bulan kemudian, Mas Hary mengirimkan ilustrasi buku Aku Cinta Masjid ke email saya. Waaah… saya sangat suka dengan ilustrasi tersebut, ada gambar masjid-masjid terkenal juga. Beberapa waktu setelah itu, Mas Hary mengirimkan PDF buku sebelum naik cetak. Saya membaca setiap kalimat dengan teliti, berharap tak ada kesalahan ketik di sana. Melihat PDF buku ini, membuat saya makin tak sabar melihat versi cetaknya.

Aku Cinta Masjid

Alhamdulillah naskah yang sudah berubah dari konsep awal itu akhirnya terbit juga. Minggu lalu, saya menemukan buku Aku Cinta Masjid sudah duduk manis di display toko buku Gramedia Metropolitan Mall Bekasi. Karena kebetulan saya belum menerima bukti terbitnya, tentu saja saya merasa terpesona ketika tiba-tiba mata saya menangkap ‘anak’ saya sedang bertengger di display bacaan anak.

Sambil menahan haru, saya mengambil buku tersebut, saya buka halaman demi halaman. Sesuai dengan yang saya harapkan. Ilustrasi di beberapa babnya insyaallah akan membuat pembaca cilik makin tertarik untuk membaca buku ini. Saya berharap buku ini bisa menambah wawasan pembaca cilik terhadap masjid. Baik berupa bangunan masjid, hal-hal yang boleh/ tidak dilakukan di masjid, tip untuk rajin ke masjid dan lainnya.

Saya harap setelah membaca buku ini, makin banyak anak-anak khususnya dan semua pembaca umumnya makin rajin ke masjid dan memakmurkan masjid. Aamiin…

Demikian proses kreatif dari penulisan buku Aku Cinta Masjid. Semoga harapan saya terhadap pembaca buku ini dikabulkan Allah, ya. Saya berdoa bagi semua pembacanya agar Allah selalu meng-istiqamahkan  hati kita untuk selalu mencintai masjid dan beribadah di masjid. Aamiin… Salam cinta masjid dari saya, Nelfi Syafrina. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

 

Tiga Serangkai
Right Menu Icon